Selasa, 16 Desember 2008

prend keep stay away from drugs,ok!



Menjadi remaja itu menyenangkan.

Benar benar menjadi remaja, alias lengkap dengan segala macam atributnya. Nongkrong, bergaul, pacaran, bolos sekolah, ngecengin cewek kelas sebelah, mengutuk dosen, ngendon di depan computer buat ngerjain tugas, nyobain rokok, ngedrugs, beli kondom …. Wait wait, endingnya kok parah semua ya. Narkoba?

Boleh percaya atau tidak, boleh merasa basi ato nggak, tapi memang dunia remaja sekarang ini sudah lama dijajah oleh narkoba dan sahabat sahabatnya.

Nggak bosen bosennya pemerintah dan sekian banyak LSM masyarakat yang menyerukan slogan “Say No to Drugs” dimana mana. Mulai dari pemasangan jargon jargon anti narkoba di sepanjang jalan, sampai ke kesan pematenan tema “Anti Narkoba” di tiap tiap lomba remaja, baik poster, karya tulis, cerpen sampai blog.

Melihat gencarnya usaha pemerintah dalam membantu golongan remaja, khususnya dalam self defence terhadap narkoba membuat gue berfikir, sebegitu parahkah remaja Indonesia saat ini?

Kebanyakan remaja, termasuk saya sendiri emang sering kali sotoy. Berani berbuat tanpa mempedulikan akibatnya. Sekalinya ngerasa enak pasti bakal dilakuin terus. Dan seperti itulah jalan narkoba jika ingin menghampiri kita.

Tahukah kamu? Tentu tidak heheh , dunia kedokteran melaporkan bahwa sekitar 70 persen pelaku penyalagunaan narkotika adalah para remaja. Remaja yang tidak mau dianggap anak-anak, tetapi masih belum mampu menempati dunia dewasa. Mereka berada pada warna abu abu, berada di tengah tengah. Cukup sering kebingungan jika ingin minum obat, mau pake dosis dewasa apa anak anak?

Tidak disebut anak kecil lagi - belum disebut orang dewasa. Intinya sedang "dalam perjalanan menuju kedewasaan." Dan umur remaja biasanya berkisar 13-21 tahun, umur sekolah. Bayangkan pada usia begini muda sudah terkena racun narkotika. Malahan sekarang juga ada kasus anak TK yang udah kena narkoba ya? Buset.

Gue sendiri cukup penasaran (tapi gak minat nyoba) tentang narkoba, apa jenisnya dan gimana wujudnya? Dari situs Indonesia.com gue kasih tau macem macemnya:

Candu/ madat atau opium, yaitu narkotika yang dinikmati pakai pipa isapan. Dari candu atau opium ini bisa dihasilkan morfin yang berbentuk tepung licin dan halus keputih-putihan atau kuning. Morfin sangat berbahaya karena denyut jantung dan tubuh akan sangat lemah. Morfin biasa dipakai dengan menyuntik pada lengan dan paha. Ngeri ah

Heroin, dihasilkan melalui proses kimia atas bahan baku morfin. Heroin yang diedarkan sering dalam bentuk bubuk berwarna putih keabu-abuan atau coklat. Dinikmati dengan jalan mencium narkotika ini. Kalau pakai suntik, si pemakai sangat menderita dan akhirnya bisa mati. Buset …. Langsung mati.

Shabu shabu adalah heroin kelas2, yang dihisap dengan menggunakan suatu alat khusus, Inia yang biasanya juga sering bikin artis artis Indonesia masuk penjara.

Ecstasy/ Metamphetamines dalam bentuk pil yang berakibat kondisi tubuh memburuk dan tekanan darah semakin tinggi. Gejalanya: suka bicara, rasa cemas dan gelisah, tak dapat duduk dengan tenang, denyut nadi terasa cepat, kulit panas dan bibir hitam, tak dapat tidur, bernapas dengan cepat, tangan dan jari selalu bergetar. Mau tau lebih lanjut? Tanya aja artis Zarima Mirafsur

Putauw , sebenarnya heroin kelas 5 atau 6 , yang merupakan ampas heroin, digunakannya yaitu dengan cara membakar dan dihisap asapnya.

Ganja atau mariyuana. Ganja paling banyak dipakai. Mungkin karena akibatnya yang tergolong tidak terlalu berbahaya bagi jiwa dan syaraf pemakai.

Hashish. Berbentuk tepung dan warnanya hitam. Ia dinikmati dengan cara diisap atau dimakan. Narkotika jenis yang kedua ini dikatakan agak tidak berbahaya hanya karena jarang membawa kematian.

Semua benda semu itu berujung di kematian. Masih mau nyoba?
Kalo make kita bisa fly Beh … fly…

Alah .. mau fly juga gak perlu pake narkoba segala. Bahkan gue sekarang ini lebih lebih milih es buah, daripada make shabu shabu.

Remaja membutuhkan pertolongan Beh! Kita kita memang sering bimbang dalam setiap melangkah. Gampang penasaran n gampang tergoda, dan merasa dewasa adalah alasan utamanya. Secara pribadi, gue sering tuh tergoda sama hal hal negative lainnya. Mulai dari nyoba ngerokok sampe rajin bolos kuliah.

Tapi disinilah peran orang tua dibutuhkan.

Tidak semua keluarga mampu menciptakan kebahagiaan bagi semua anggotanya. Banyak keluarga berantakan yang ditandai oleh relasi orangtua yang tidak harmonis dan matinya komunikasi antara mereka. Bayangan keluarga bahagia yang selalu menjadi dambaan setiap anak pun memudar. Kemana anak harus berpaling?

Tapi ini bukan alasan. Gue disesarkan oleh seorang ibu yang hebat. Yang tidak merasa letih dalam setiap memberikan nasihatnya kepada gue. Yang memberikan perlindungan mental kepada gue, menguatkan pendirian gue dan menjadi penyokong gue dalam menghadapi masalah remaja. Gue sendiri sering banget terjerumus, begaul dalam lingkungan kampus yang berbeda dari remaja pada umumnya. Gue kuliah di komunitas anak anak seni, yang selalu diidentikkan dengan preman, drugs dan sebagainya. Godaan setiah saat terus mengalir. Tapi gue bisa membentengi diri gue. Kalu gue bias kenapa kalian nggak?

Keluarga, factor pertama yang berpengaruh dalam liku liku perjalanan seorang remaja. Keluarga yang relevan biasanya akan menularkan pula factor religius kepada anak remajanya. Tameng kedua yang menurut gue sangat berguna dalam membentengi moral dan memerangi narkoba.

So, lets keep stay away from drugs,ok!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar